Zoom
Analisis Life-Cycle Cost (LCC) Baja vs. Beton Bertulang : Mana yang Lebih Menguntungkan?
Analisis daur hidup (life-cycle analysis) pada beton dan baja struktur menelusuri jejak keduanya sejak “lahir” hingga “pensiun”—mulai dari ekstraksi bahan baku, proses manufaktur (klinkerisasi semen versus peleburan dan rolling baja), transportasi, konstruksi, fase operasional dengan siklus perawatan, sampai pembongkaran dan potensi daur ulang. Beton kerap dicatat sebagai kontributor CO₂ terbesar di tahap awal karena produksi semen‐nya yang intensif energi, namun ia menawarkan massa termal tinggi dan umur layan panjang dengan perawatan relatif minimal.
Sebaliknya, baja menanggung energi awal dan emisi yang lebih tinggi per kilogram, tetapi kelebihannya terletak pada kekuatan-berat (sehingga membutuhkan volume material lebih sedikit), selain itu, baja struktur memiliki kemudahan dalam modifikasi struktural di tengah umur bangunan, serta tingkat daur ulang dari seluruh komponen baja yang dapat mendekati 100 %.
Dengan menempatkan kedua material ini dalam kerangka biaya total, jumlah emisi karbon kumulatif, dan opsi akhir masa pakai dari kedua pilihan material, analisis daur hidup material akan membantu pemilik proyek dan perancang memilih pilihan yang paling efisien, berkelanjutan, sekaligus ekonomis untuk setiap pekerjaan konstruksi.
Apa itu Life-Cycle Cost ?
Life-Cycle Cost (LCC) adalah teknik untuk memprediksi dan menilai kinerja biaya aset terbangun sejak tahap akuisisi hingga pembuangan akhir, mencakup seluruh arus kas biaya, pendapatan, bahkan eksternalitas bila disepakati dalam cakupan analisis ISO. Dengan pendekatan ini, keputusan pemilihan material struktur tidak hanya didasarkan pada biaya awal, tetapi juga pada total biaya kepemilikan selama umur rencana.
Life Cycle Cost (LCC) akan memperhitungkan total biaya proyek konstruksi dengan mempertimbangkan secara berurutan dari aspek biaya awal, kecepatan pengerjaan konstruksi, biaya pemeliharaan, masa pakai produk/struktur, hingga dampaknya kepada lingkungan. Berikut penjelasan Life Cycle Cost antara Beton dan Baja Struktur:
Perhitungan Life Cycle Cost Baja Struktur
Biaya Awal
Walaupun harga baja per kilogram cenderung lebih tinggi—ditambah biaya fabrikasi dan sambungan presisi—total investasi tidak selalu lebih besar. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Syamsuddin, Ilham dan Meilani, dalam proyek pengerjaan Gudang Alfamidi DC Kendari, struktur baja dianggarkan sekitar Rp 24,35 miliar, sedangkan opsi beton mencapai ±Rp 29,07 miliar, sehingga baja mendapatkan skor persentase 19 % lebih ekonomis.
Kecepatan Konstruksi
Komponen baja dipra-fabrikasi di pabrik, dikirim sebagai modul siap pasang, lalu didirikan dengan cepat. Keunggulan ini mempersingkat durasi penyewaan alat berat, menekan biaya overhead lapangan, dan mengurangi risiko eskalasi harga material.
Pemeliharaan
Struktur baja memerlukan proteksi korosi berkala. Pada lingkungan korosi sedang, lapisan cat pelindung jembatan baja biasanya diperbarui setiap ±5 tahun, menambah biaya operasi dan pemeliharaan. Data Caltrans (2020-2022) juga menunjukkan biaya perawatan guardrail baja lebih tinggi dibanding beton.
Usia Pemakaian & Nilai Sisa
Masa Layan atau umur pemakaian baja dapat lebih panjang jika mendapat maintenance yang tepat. Baja juga mudah dimodifikasi, diperkuat, atau dibongkar. Lebih dari 90 % volumenya dapat didaur ulang, dan nilai scrap-nya tetap kompetitif, sehingga nilai sisa proyek terjaga.
Lingkungan
Produksi baja menghasilkan emisi karbon sekitar 7–10 kali lebih tinggi per kilogram dibanding beton; namun, tingkat daur ulang yang mendekati 100 % membantu menurunkan jejak karbon kumulatif pada akhir siklus hidup bangunan.
Perhitungan Life Cycle Cost Beton Bertulang
Biaya Awal
Di daerah yang memiliki agregat lokal murah dan banyak tenaga kerja umum, beton bertulang biasanya paling ramah kantong. Contohnya, studi hotel 9 lantai di Surabaya menunjukkan struktur beton menghabiskan ±Rp 19,03 miliar, sedangkan baja melonjak hingga ±Rp 72,21 miliar—yakni hampir 3,8 kali lebih mahal. Faktor lokasi penyedia agregat akan sangat berpengaruh terhadap harga secara signifikan, begitupun sebaliknya apabila pekerjaan konstruksi dilakukan di lokasi yang jauh dari lokasi penyedia agregat, biaya yang dikeluarkan akan lebih mahal.
Durasi Konstruksi
Proses bekisting, curing, dan pemasangan scaffolding membuat jadwal proyek beton cenderung lebih panjang, sehingga biaya tidak langsung—sewa alat, gaji kru, overhead—ikut membesar.
Pemeliharaan
Secara umum frekuensi pemeliharaan beton lebih rendah daripada baja. Namun, bila lingkungan lembap atau mengandung klorida tinggi, retak dan spalling akibat korosi tulangan bisa menuntut perbaikan besar.
Operasional & Kenyamanan
Bobot termal beton yang tinggi membantu menstabilkan suhu ruangan, berpotensi menekan konsumsi energi AC dan sistem HVAC.
Lingkungan
Emisi karbon per kilogram beton memang lebih rendah, tetapi volume pemakaian yang besar tetap menghasilkan jejak karbon signifikan. Perlu diingat, produksi semen saja menyumbang sekitar 8 % emisi CO₂ global.
Kesimpulan
Melalui analisis Life-Cycle Cost (LCC), kita dapat melihat bahwa material baja memiliki keunggulan strategis dalam berbagai aspek penting, terutama pada proyek dengan kebutuhan konstruksi cepat, efisiensi jangka panjang, serta potensi nilai sisa tinggi. Meskipun biaya awal baja terkadang lebih tinggi dibanding beton, keuntungan dari sisi kecepatan pemasangan, fleksibilitas desain, kemudahan pemeliharaan, dan daur ulang material menjadikan struktur baja sebagai solusi yang sangat kompetitif secara ekonomi dalam siklus hidup bangunan. Ditambah lagi, teknologi fabrikasi modern dan pendekatan rekayasa nilai (value engineering) memungkinkan sistem struktur baja dioptimalkan tanpa mengorbankan kekuatan dan keamanan.
PT Gunung Baja Permata memahami bahwa setiap proyek memiliki karakteristik unik dan kebutuhan anggaran yang berbeda. Karena itu, kami hadir dengan solusi baja yang fleksibel secara biaya, tanpa mengurangi standar mutu dan ketahanan struktur. Tim teknis kami berpengalaman membantu perencanaan sistem struktur baja dari tahap awal, termasuk optimasi desain, pemilihan profil, hingga pemeliharaan jangka panjang—semuanya dapat disesuaikan dengan target anggaran dan timeline proyek Anda. Dengan pendekatan ini, baja bukan hanya menjadi pilihan teknis, tetapi juga pilihan finansial yang masuk akal dan berkelanjutan.
Jika Anda sedang mempertimbangkan struktur baja untuk proyek Anda, baik untuk bangunan industri, gudang, gedung bertingkat, hingga infrastruktur publik, konsultasikan kebutuhan Anda kepada kami secara gratis.
Bersama PT Gunung Baja Permata, biaya konstruksi baja dapat dikelola secara lebih terukur dan efisien, untuk investasi jangka panjang yang lebih unggul.