Zoom
Terungkap! Fakta Sejarah Jembatan Suramadu yang Butuh 46 Tahun untuk Terwujud
Gagasan pembangunan Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya di Jawa dengan Pulau Madura sesungguhnya telah lahir sejak era 1960-an melalui pemikiran visioner Prof. Dr. Ir. Sedyatmo, seorang tokoh teknik sipil Indonesia yang juga dikenal sebagai pencetus sistem cakar ayam. Ide tersebut muncul dari kebutuhan strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Pulau Madura yang saat itu masih tertinggal dibandingkan kawasan Jawa Timur lainnya. Namun, gagasan besar ini sempat hanya menjadi wacana karena keterbatasan teknologi, pembiayaan, serta prioritas pembangunan nasional pada masa itu.
Baru pada tahun 1990, wacana tersebut mendapatkan legitimasi politik ketika pemerintah menetapkan rencana pembangunan Suramadu sebagai proyek nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1990. Keppres ini menjadi tonggak penting yang menandai keseriusan negara untuk menghadirkan infrastruktur penghubung Jawa–Madura. Sayangnya, krisis moneter yang melanda Asia pada 1997 membuat berbagai proyek besar, termasuk Suramadu, harus dihentikan sementara karena terkendala dana dan situasi ekonomi nasional yang tidak stabil.
Meskipun demikian, gagasan ini tidak pernah benar-benar hilang. Memasuki awal 2000-an, seiring dengan stabilisasi politik dan ekonomi pasca-reformasi, proyek Suramadu kembali memperoleh perhatian. Dukungan politik yang lebih kuat, ditambah adanya kepastian pendanaan dari pemerintah pusat dan kerja sama dengan berbagai pihak, akhirnya membuka jalan bagi dimulainya kembali konstruksi jembatan yang kelak menjadi ikon penting pembangunan nasional tersebut.
Dimulai sejak 20 Agustus 2003
Pembangunan Jembatan Suramadu secara resmi dimulai pada 20 Agustus 2003, ditandai dengan pemasangan tiang pancang pertama oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Momentum ini menjadi titik balik setelah wacana pembangunan jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura sempat bergulir sejak era 1960-an dan baru ditetapkan sebagai proyek nasional pada 1990 melalui Keppres No. 55 Tahun 1990. Namun, krisis moneter 1997 membuat proyek tersebut tertunda hingga akhirnya dapat direalisasikan pada awal 2000-an.
Selanjutnya, pada 2 Juli 2004 pemerintah mencanangkan tahap pembangunan bentang tengah, yang kemudian disusul dengan pemasangan bentang utama pada 19 November 2005. Selama prosesnya, proyek ini menghadapi berbagai kendala teknis, mulai dari desain struktur yang harus disesuaikan dengan kondisi laut Selat Madura, hingga kendala administratif seperti pembebasan lahan dan pembiayaan yang sempat menghambat progres.
Setelah menempuh perjalanan panjang, Jembatan Suramadu akhirnya rampung dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009. Dengan biaya mencapai sekitar Rp4,5 triliun, termasuk pembangunan jalan penghubung, jembatan sepanjang 5,4 km ini tercatat sebagai jembatan terpanjang di Indonesia sekaligus simbol keterhubungan strategis antara Jawa dan Madura.
Model Konstruksi
Jembatan Suramadu dibangun dengan panjang total 5.438 meter dan lebar 30 meter, menjadikannya jembatan terpanjang di Indonesia sekaligus ikon rekayasa teknik sipil nasional. Rancangan konstruksinya terbagi menjadi tiga segmen utama.
Pertama, jalan layang (causeway) yang berada di sisi Surabaya maupun Madura, berfungsi sebagai penghubung dari daratan menuju jembatan.
Kedua, jembatan penghubung (approach bridge) yang terdiri dari bentang-bentang beton pratekan dan baja, menopang jalan raya hingga menuju bagian inti.
Ketiga, jembatan utama (main span) sepanjang 818 meter yang menggunakan sistem kabel (cable-stayed bridge) menjadikannya jembatan gantung dengan kabel-kabel yang ditarik dari dua menara utama setinggi ±140 meter. Sistem ini dipilih karena mampu menahan beban besar sekaligus menciptakan ruang bebas di bawahnya dengan ketinggian vertikal 35 meter, sehingga kapal-kapal berukuran besar tetap bisa melintas di Selat Madura.
Selain struktur utama, jembatan ini juga dirancang dengan mempertimbangkan fungsi transportasi yang beragam. Terdapat jalur khusus sepeda motor di sisi luar kiri dan kanan jembatan yang dipisahkan dari jalur kendaraan roda empat untuk keamanan, serta jalur darurat di setiap arah sebagai antisipasi jika terjadi insiden di atas jembatan. Dari sisi arsitektural, dua menara utama setinggi 146 meter yang menyangga kabel baja bukan hanya berfungsi struktural, tetapi juga memberi ciri khas visual yang menjadikan Suramadu sebagai landmark modern Kota Surabaya dan Madura.
Dari aspek teknis, konstruksi Suramadu melibatkan teknologi internasional dengan kombinasi kontraktor dalam negeri dan luar negeri. Kolaborasi ini menghasilkan struktur yang kokoh menghadapi tantangan lingkungan laut seperti arus, gelombang, dan potensi korosi akibat air asin. Dengan demikian, Suramadu tidak hanya berperan sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai pencapaian monumental dalam sejarah pembangunan infrastruktur Indonesia.
Regulasi dan Kebijakan Pengoperasian
Diresmikan dengan Berbayar
Sejak diresmikan pada 2009, Jembatan Suramadu awalnya difungsikan sebagai jalan tol berbayar. Kebijakan ini diterapkan dengan dasar hukum Keputusan Presiden Nomor 79 Tahun 2003, yang tidak hanya mengatur pembangunan tetapi juga mekanisme operasional dan tarif. Pada masa awal, pengguna kendaraan roda empat dan roda dua dikenakan biaya tertentu untuk melintas, menjadikannya satu-satunya jembatan tol di Indonesia yang memiliki jalur khusus motor. Kebijakan tersebut kala itu dimaksudkan untuk mendukung pengembalian investasi pembangunan yang menelan biaya hingga triliunan rupiah.

Akses Gratis
Perubahan besar terjadi pada 26 Oktober 2018, ketika Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2018. Regulasi ini resmi menghapus tarif tol Suramadu dan mengubah statusnya menjadi jalan umum non-tol. Keputusan tersebut sekaligus mencabut beberapa aturan sebelumnya, termasuk ketentuan dalam Keppres Nomor 79 Tahun 2003 dan pasal-pasal terkait di Perpres 27/2008 serta perubahannya. Dengan diberlakukannya kebijakan ini, masyarakat Madura mendapatkan akses gratis yang jauh lebih mudah, dan di sisi lain pemerintah berharap percepatan pertumbuhan ekonomi di Madura bisa tercapai.
Langkah penggratisan Suramadu bukan hanya sebuah keputusan teknis, melainkan juga kebijakan strategis nasional. Ia mencerminkan komitmen pemerintah untuk menjadikan infrastruktur sebagai instrumen pemerataan pembangunan. Sejak saat itu, Jembatan Suramadu tidak lagi sekadar simbol kemegahan konstruksi, tetapi juga simbol keberpihakan negara pada percepatan kesejahteraan masyarakat Madura.
Langkah penggratisan Suramadu bukan hanya sebuah keputusan teknis, melainkan juga kebijakan strategis nasional. Ia mencerminkan komitmen pemerintah untuk menjadikan infrastruktur sebagai instrumen pemerataan pembangunan. Sejak saat itu, Jembatan Suramadu tidak lagi sekadar simbol kemegahan konstruksi, tetapi juga simbol keberpihakan negara pada percepatan kesejahteraan masyarakat Madura.
Kondisi Terkini
Sejak digratiskan, Jembatan Suramadu menjadi jalur utama yang mempermudah mobilitas masyarakat dan distribusi barang antara Jawa dan Madura. Kebijakan ini diharapkan mempercepat pemerataan pembangunan dan membuka akses ekonomi yang lebih luas bagi Madura. Namun, di sisi lain, tantangan pemeliharaan tetap menjadi perhatian utama mengingat jembatan telah berusia lebih dari satu dekade dan terpapar langsung oleh lingkungan laut yang rawan korosi. Pada 2022, jalur khusus motor sempat ditutup untuk kepentingan teknis tertentu, namun secara umum jembatan tetap berfungsi sebagai infrastruktur vital yang menghubungkan dua wilayah strategis.
Kesimpulan
Jembatan Suramadu merupakan bukti nyata keberhasilan pembangunan infrastruktur besar di Indonesia yang memiliki nilai strategis tinggi. Dari gagasan puluhan tahun lalu, proses pembangunan yang penuh tantangan, hingga perubahan kebijakan pengoperasian dari jalan tol menjadi jalan umum, Suramadu tetap menjadi ikon yang tidak hanya mempersingkat jarak tetapi juga membuka peluang sosial-ekonomi bagi Pulau Madura. Keberadaannya menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur bukan sekadar fisik, tetapi juga instrumen untuk mempercepat pertumbuhan dan pemerataan kesejahteraan.
Sebagai salah satu proyek ikonik di Indonesia, Jembatan Suramadu menjadi bukti bahwa perencanaan matang, standar konstruksi yang tepat, serta pemilihan material berkualitas adalah kunci keberhasilan pembangunan jembatan berskala besar. Hal yang sama juga berlaku bagi setiap proyek konstruksi jembatan, baik skala kecil maupun besar, yang membutuhkan keandalan struktur untuk jangka panjang.
Jika Anda memiliki kebutuhan atau rencana pembangunan jembatan baja maupun konstruksi bangunan khusus lainnya, tim marketing dan engineer PT Gunung Baja Permata siap memberikan konsultasi gratis. Dengan pengalaman dalam menangani berbagai proyek infrastruktur, kami hadir untuk membantu Anda mendapatkan solusi konstruksi yang efisien, aman, dan sesuai standar.


